Social Icons

Showing posts with label Writing. Show all posts
Showing posts with label Writing. Show all posts

Saturday, March 21, 2015

Menulis Itu Mudah, Tapi Juga Sulit.

Sudah lama dan sangat lama sekali saya tidak menulis, bahkan untuk sekedar bercerita di blog ini, apalagi "ceramah". Hingar bingar dunia NYATA membuat kegiatan MAYA yang saya tekuni dari dulu kian memudar.

Dahulu, ketika saya masih sangat bersahabat dengan BUKU, saya masih bisa memahami kalimat paling sulit dalam bahasa Inggris. Sekarang, saya hampir tidak ingat "Apakah saya memiliki blog atau tidak". Padahal, dengan adanya 400 lebih buku elektronik berbahasa Inggris, tentang bahasa Inggris, dan ditulis para ahli bahasa Inggris di kompi yang saya gunakan ini, seharusnya saya sudah bisa berbagi lebih banyak tulisan di blog ini. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Jangankan menyadur buku-buku tersebut, membaca sekalipun sudah tidak lagi (haduuh). Menulis itu penting, tapi bagi saya, membaca itu lebih penting. Lalu bagaimana jika keduanya tidak saya lakukan? Beginilah... semuanya hampir saja hilang begitu saja. 

Mungkin saya paham bagaimana menulis dengan baik, cukup menguasai 5W + 1H saja sudah bisa dikatakan bahwa saya bisa menulis; namun tidak untuk blog ini. Blog ini saya tulis dengan apa adanya: yang saya baca tidak mesti harus saya tulis; yang saya mengerti "mungkin" saja saya tulis; dan satu hal lagi, yang saya tulis tidak harus menuruti kaidah menulis yang baik dan benar. Itu prinsip, tidak bisa ditawar. Silahkan para narablogger yang ahli menulis melayangkan protes, saya tidak peduli.

menulis
Dari blog ini saya memahami bawha menulis itu mudah. Saya tidak harus menuruti aturan menulis yang baik, toh masih bisa dibaca, diprotes, bahkan dihujat, - yang penting saya menulis. Dan dengan menulis di blog inilah, saya bisa menyimpulkan, apapun bisa ditulis meski tulisan tersebut tidak bisa dibaca. (lihat status fb alay, ga bisa dibaca toh itu tulisan :)

Namun harus dicatat, meski saya mengatakan menulis itu mudah, saya juga sependapat jika menulis itu sulit. Buktinya, sudah berbulan-bulan saya tidak menulis :). Nah, itu dia jawaban paling pas mengapa menulis itu sulit. Kegiatan sehari-hari yang melelahkan sangatlah mengganggu pikiran, bahkan perasaan sekalipun. Kelelahan karena aktifitas tersebut bisa mengurangi gairah membaca. Jika sudah kehilangan gairah membaca, sangat tidak mungkin lagi saya menulis. 

Itu saja dan tidak lebih. Saya hanya berharap semoga dengan tulisan ini, saya bisa meluangkan sedikit waktu untuk membaca demi bisa menyediakan sedikit waktu untuk menulis.

Apa benar menulis itu sulit???? Saya harap jawabannya tidak. Hopefully...

(Tulisan ini ditulis tidak untuk dibaca, nah loh :)

Thursday, April 10, 2014

Hindari "Unclear Antecedents"

Apa sobat pernah bingung membaca kalimat yang sudah ditulis oleh diri sendiri? Jika pernah, mungkin tulisan sobat terdapat unclear antecedent. Apa sih unclear antecedent itu? Hmm... apa yah? Jadi bingung :)

Untuk lebih memahami unclear antecedent, alangkah baiknya kita mengetahui apa itu antecedent. Bukankah demikian? Antecedent di sini bukan antecedent yang ada dalam teori matematika; namun lebih condong pada teori struktur bahasa. Langsung saja, disebutkan dalam Kamus Online Merriam-Webster, antecedent adalah "a word or phrase replaced by a substitute." Jadi, antecedent adalah kata atau frasa yang digantikan oleh "sang pengganti" baik itu noun (kata benda) atau pronoun (kata ganti).

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari contoh antecedent berikut ini :

Marry saw John and thank him.

Pada kalimat di atas, John adalah antecedent dari kata ganti him. Dengan kata lain, "him" mengacu pada kata "John" dan karenanya antecedent pada kalimat di atas benar-benar jelas (clear antecedent).

Lalu seperti apa sih unclear antecedent?

Mengacu pada keterangan di atas, unclear antecedent bisa dianggap kalimat yang rancu karena ketidakjelasan apa / siapa antecedent pada sebuah kalimat. Contoh :

Marry saw John and Billy; then she thank him.

Pada kalimat di atas, ada dua orang pria: John dan Billy; sedang Marry (she) berterima kasih kepada dia (him). Pertanyaannya? Kepada siapa sebenarnya Marry berterima kasih? apa kepada John atau Billy?

Nah, itu dia yang dinamakan unclear antecedent. Oleh sebab itu, saya sarankan ketika menulis kalimat, cobalah untuk menghindari ambiguitas kalimat seperti adanya antecedent yang tidak jelas.

Lalu bagaimana memperbaiki unclear antecedent?

Untuk memperbaiki unclear antecedent, tentu kita harus menata ulang kalimat yang sudah kita susun agar keberadaan pelaku (subject), kata kerja (verb) dan struktur kalimat lainnya tidak ambigu lagi. Seperti misalnya pada contoh di bawah ini :

  • Unclear antecedent : Before Eva met Cynthia, she had been timid and shy. (pada kalimat ini, kata ganti she tidak jelas mengacu / kembali pada antecedent mana, apakah Eva atau Cynthia?)
  • Clear antecedent : Before Eva met Cynthia, Eva had been timid and shy.

  • Unclear antecedent : Samuel said he is meeting with Ahmad, and he will set up the new network hub. (Pada kalimat ini, kata ganti he yang kedua tidak jelas mengacu pada siapa? apakah Samuel atau Ahamd?)
  • Clear antecedent : Samuel said he is meeting with Ahmad; and Ahmad will set up the new network hub.

Apakah sudah jelas? Jika ada yang belum jelas, mari kita belajar bersama dengan mendiskusikannya..

Semoga tulisan mengenai antecedent ini bisa menambah pengetahuan kita tentang bahasa Inggris

Tuesday, January 21, 2014

Contoh Descriptive Text tentang Gajah (Elephants)

Siapa yang tidak tahu gajah? Ah masa gajah di pelupuk mata terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas. Memang binatang yang satu ini sering kita lihat, baik secara langsung (di kebun binatang) atau melalui media televisi. Lalu apa hubungan gajah dengan descriptive text?

Meski sering kita lihat dan mungkin kita bisa menggambarkan (menjelaskan) tentang penampilan fisik gajah dalam bahasa Indonesia, namun nyatanya kadang kita kesulitan ketika harus menggambarkan "gajah dalam bahasa Inggris". Ya begitulah kira-kira ketika kemampuan kosakata bahasa Inggris kita mentok meski sudah merasa paham tentang descriptive text..

Oleh karena itu, tak usah memaksakan diri untuk "menulis" teks descriptif tentang gajah, mari kita lihat saja contohnya di bawah ini :

Contoh Descriptive Text tentang Gajah (Elephants)


The African Elephant is described as the Loxodonta africana of Africa. They are very large, grey, four-legged herbivorous mammals. They have almost hairless skin, a distinctive long, flexible, prehensile trunk. Its upper incisors form long curved tusks of ivory. African elephants have large fan-shaped ears and two “fingers” at the tip of its trunk, compared to only one in the Asian species. Furthermore, the Indian Elephant is described as Elephas maximus of south-central Asia. The ears of Indian elephants are significantly smaller than African elephants.

contoh descriptive text
How to describe the elephants?
Elephants are herbivores and eat all types of vegetation such as grasses, leaves, fruits, and bark. The facts tell that despite the size of ears the elephant’s hearing is poor, because elephants ears are used to aid ventilation. One of the softest parts of their body is at the back of the ears, which is called the knuckle. In a zoo, elephant trainers, called Mahouts, use their feet to steer or give commands to the animal via the knuckle at the back of the ears. 


Some other facts about the elephants are : The elephant is the largest of all land mammals; Life Span - elephants can live for up to 70 years; Elephants normally walk about 4 mph; Elephants are able to swim for long distances; Elephants spend about 16 hours a day eating; They consume as much as 495 pounds of food per day; They live in tight social units led by an older matriarch; Males leave the herd between the ages of 12 and 15; Their tusks are of ivory and are actually enormously enlarged incisors; The elephant's eyes are small and its eyesight is poor, They have the largest brains in the animal kingdom.

Coba mana generic structure dari contoh descriptive text di atas?

Sunday, January 12, 2014

Manfaat Mengajarkan Narrative Text

Adakah manfaat mengajarkan narrative text? - Setelah sebelumnya kita telah membahas penjelasan dan contoh narrative text, kini saatnya kita mengetahui beberapa manfaat yang bisa kita ambil saat belajar narrative text.

Bagi seorang guru, manfaat sebuah pelajaran yang bisa diambil oleh siswa adalah hal yang paling utama, bukankah demikian? Seorang guru bukanlah orang yang hanya menginginkan siswanya mendapatkan nilai tinggi saat ujian / tes saja, ia punya tujuan utama, yaitu mengambil manfaat dari pelajaran yang ia ajarkan.

Dan berikut beberapa manfaat yang bisa siswa dapatkan ketika mempelajari narrative text :

Memahami "Setting"

Dalam setiap narrative text, karena pasti berbentuk sebuah cerita, setting menunjukkan siswa di mana dan kapan cerita narrative ini terjadi. Siswa bisa memahami perbedaan antara tempat satu dan lainnya. Siswa juga harusnya bisa membedakan tempat dan waktu antara cerita satu dengan cerita lainnya.

Memahami "Character"

Sebuah cerita pasti memiliki pemeran utama, baik itu sebagai karakter protagonis ataupun antagonis. Siswa bisa mengenali karakter mereka masing-masing. Siswa seharusnya bisa membedakan mana karakter mana yang tidak pantas ditiru, dan mana karakter yang patut dicontoh. Jika siswa belum bisa membedakan kedua karakter ini, maka bisa dikatakan narrative text yang diajarkan oleh guru belum sepenuhnya bermanfaat.

Personalizing

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa narrative text bisa membantu orang dapat mengendalikan situasi yang sedang ia alami. Karena biasanya ada saja cerita-cerita dalam narrative text tersebut berhubungan dengan cerita yang mereka alami. Selain itu, narrative text juga bisa membuat siswa dapat berpikir lebih logis dalam mengendalikan waktu mereka. Permulaan cerita, tengah cerita, dan akhir cerita harusnya menjadi pertimbangan siswa dalam menempuh hidupnya lebih lanjut.

Setidaknya ketiga manfaat narrative text tersebut bisa membuat kita tetap ingat bahwa tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Ada hal-hal atau masalah yang 'mungkin' tidak terduga yang bisa kita pahami dan kita selesaikan. 

Mungkin masih banyak lagi manfaat narrative text, untuk para siswa dan guru, bolehlah sekiranya memberikan opini...

Sunday, November 17, 2013

Deferences between Skilled and Unskilled Writers

Perbedaan antara penulis mahir dan penulis yang tidak mahir dijelaskan dengan sangat singkat oleh David Nunan dengan mengutip beberapa pendapat para ahli. Memang menulis atau writing adalah salah satu--jika boleh saya katakan satu-satunya--skill berbahasa Inggris tersulit. Tidak hanya harus mempersiapkannya sedemikian rupa, tapi juga menulis membutuhkan konsentrasi yang cukup serius. Karena, pada dasarnya menulis adalah sebuah proses dimana ada beberapa tahap yang harus kita lewati.

Dalam menjelaskan tentang perbedaan antara penulis yang mahir dan yang tidak mahir, Nunan (1991: 91) mengatakan :

At the pre-writing stage, skilled writers spend time planning the task, while unskilled writers spend little time planning, in consequence, are confused when they begin. At the drafting stage, skilled writers write quickly and fluently, spend time reviewing what they write, and do most of their reviewing at the sentence and paragraph level. Unskilled writers spend little time reviewing what they have written, review only short segments of text, and are concerned principally with vocabulary and sentence formation. Finally at the revision stage, skilled writers revise all level of lexis, sentence and discourse, review and revise throughout the composing process, and use revisions to clarify meaning, while unskilled writers do not make major revisions in the direction or focus of the text, make most revisions only during the first draft and focus primarily on the mechanics of grammar, spelling, punctuation and vocabulary.

Coba lihat dengan seksama perbedaan kedua penulis di atas, anda sebagai calon penulis, baik menulis laporan, karya ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, novel, puisi, cerpen dan jenis tulisan lainnya, mau memilih menjadi A Skilled Writer atau An Unskilled Writer? Terserah anda.... Kalau saya sendiri, terserah saya donk... :-)


Nunan, David. 1991. Language Teaching Methodology. Prentice Hall.

Friday, November 15, 2013

6 Kesalahan Grammar dalam Menulis Kalimat

Postingan ini diadaptasi dari tulisan West (2008: 29-36) tentang kesalahan-kesalahan gramatikal dalam menulis sebuah kalimat. Saya akan menjelaskannya secara singkat, jelas, transparan dan tanpa basa-basi. Menurut West, setidaknya ada 7 kesalahan umum yang dilakukan seseorang dalam menulis sebuah kalimat, namun disini saya hanya akan memberikan 6 kesalahan Grammar Bahasa Inggris dalam menulis kalimat :

Pertama, Verbs not agreeing with subjects 

Aturannya sederhana: Kata Kerja serasi dengan Subyek (The verb agrees with the subject)

Ø  Singular subject, singular verb
Subyek tunggal harus ditemani kata kerja ‘tunggal’, contoh: The cat sits on the mat
Ø  Plural subject, plural verb
Subyek jamak harus ditemani kata kerja ‘jamak’, contoh: The cats sit on the mat
Ø  Two singular subject, plural verb
Dua subyek tunggal harus ditemani kata kerja ‘jamak’, contoh: The cat and the dog sit on the mat

Keterangan:

Aturan-aturan di atas masih sebatas aturan umum, ada beberapa pengecualian dalam aturan tersebut, misalnya kata kerja tak beraturan (irregular verb) yang berupa ‘to be’ (You are my love dan You are my students). Contoh pertama (you are my love) menunjukkan subyek tunggal (kamu) sedang contoh kedua (you are my students) menunjukkan subyek jamak (kalian); meskipun begitu, kata kerja yang berupa ‘to be’ tetap menggunakan ‘are’. Oleh karena itulah pemahaman tentang kata kerja (verb) sangat mempengaruhi dalam menulis sebuah kalimat. 

 Selain ‘to be’, subyek yang berupa ‘collective noun’ juga sangat mempengaruhi kata kerja, bandingkan contoh berikut:

         The team is working on it
         The team are working on it

Kedua contoh diatas sama-sama benar. Contoh pertama mengacu pada suatu tim dalam satu kesatuan sehingga kata kerjanya berupa ‘is’, sedang contoh kedua mengacu pada orang-orang yang ada dalam tim (the people of the team) sehingga kata kerjanya berupa are.

Kategori kesalahan grammatikal diatas bisa terasa mudah jika kita sangat paham tentang ‘Subject-Verb Agreement’.




Kedua, Split infinitives

Infinitives (lebih dikenal dengan to infinitive) sewajarnya berbentuk to + verb murni. Split infinitives ini berarti terpisahnya to dengan verb murninya. Memang jika terpisahnya ‘kedua pasangan’ ini tidak terlalu jauh, maka boleh-boleh saja. Namun jika jaraknya terlalu panjang maka akan terlihat kaku, contoh:

         He began to slowly but surely turn the company round

Contoh diatas terlihat tidak wajar karena memisahkan to dengan verb murninya terlalu jauh. Kalimat diatas seharusnya:

         He began to turn the company round, slowly but surely. Atau
         Slowly but surely, he began to turn the company round.

Ketiga, Dangling Participles

Participle disini adalah participle hasil dari omitting ataupun reducing clause, bukan participle yang difungsikan sebagai adjective. Berbeda dengan dua contoh diatas, dimana hanya kemampuan memahami grammar yang dibutuhkan, Dangling Participles, dikenal juga dengan istilah misrelated participle (participle yang tak serasi dengan subyek), membutuhkan kemampuan dalam segi makna untuk memahaminya, contoh:

         Cycling along a path used by Dr Livingstone, a leopard leapt out and attacked me.

Contoh diatas sebenarnya adalah sebuah adverbial clause yang sub-clausenya menghilangkan (omitting) subyek dan conjunction after. Karena dalam syarat omitting, subyek yang dihilangkan harus sama dengan yang ada di main clause, maka participle ‘cycling’ diatas tidaklah benar. Seharusnya ‘cycling’ pada ‘omitting’ pada contoh tadi mengacu pada subyek manusia karena kegiatan bersepeda umumnya dilakukan oleh manusia; akan tetapi subyek pada main clause berupa bintang ‘leopard’ sehingga makna kedua clausenya menjadi rancu. Contoh kalimat diatas jika dijabarkan maka akan menjadi seperti ini:

         After I cycled along a path used by Dr Livingstone, a leopard leapt out and attacked me.

Untuk membenarkan kalimat diatas, maka seharusnya subyek pada main clause harus diubah menjadi I, sehingga menjadi:

         After I cycled along a path used by Dr Livingstone, I was attacked by a leopard.

Jika sub. Conjunction dan subjectnya dihilangkan (omitted), maka kalimatnya menjadi:

         Cycling along a path used by Dr Livingstone, I was attacked by a leopard.

Keempat, Unbalanced Sentences

Jika menggunakan correlative conjunction, seperti either….or… atau not only….but also… kita harus memahami bahwa kalimat tersebut memiliki kesejajaran dalam bentuk dan fungsi.

Contoh:

Shelly is not only beautiful but also smart
Kata-kata setelah not only dan but also diatas (beautiful dan smart) jelas memiliki bentuk dan fungsi yang sama yaitu sama-sama adjective dan sama-sama berfungsi sebagai subjective complement. Namun hal yang paling penting adalah bentuk harus sama, jika tidak maka kalimat tersebut menjadi tidak seimbang:

Contoh:

Shelly is not only a student but also smart

Kalimat tersebut salah karena tidak seimbangnya antara a student dan smartnya (student sebagai noun dan sedangkan smart adjective). Menurut nalar semantics (pengetahuan akan makna) juga pasti terlihat rancu.

Kelima, ‘I’ or ‘me’?

Dalam percakapan sehari-hari, kalimat It’s me,  terdengar wajar-wajar saja, namun dalam menulis Bahasa Inggris yang baik, tentu kalimat tersebut jelas salah. Mengapa? Karena me hanya digunakan sebagai object pronoun yang hanya bisa diletakkan setelah transitive verb. Sedangkan is (to be) dikategorikan sebagai intransitive verb (kata kerja yang tidak membutuhkan object). Oleh karena itu sangat tidak wajar jika kita menulis kalimat dibawah ini

It was me who suggest the rise in fees

Kalimat diatas seharusnya:

It was I who suggest the rise in fees

Keenam, ‘Who’ or ‘whom’?

Pernah belajar adjective clause? Jika pernah pasti sobat mengenal who dan whom ini. Kesalahan ini sebenarnya tidak menjadi masalah untuk sekarang-sekarang ini, mengingat kata who dan whom terkadang sudah tidak mempunyai  perbedaan satupun. Meskipun dalam grammar kedua kata tersebut memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Contoh:

The man whom I mentioned yesterday is Andi
The man who came yesterday is Andi

Lihat perbedaan kedua kalimat diatas: SETELAH WHO PASTI VERB, SEDANGKAN SETELAH WHOM PASTI SUBJECT = NOUN / PRONOUN.

Ketujuh, Silahkan Sebutkan Kelemahan Sobat dalam Grammar, Ok.
 

West, Christ. 2008. Perfect Written English.London: Random House Books.

Monday, November 4, 2013

Examples - Supporting Topic Sentence

Setelah memahami topic sentence, supporting sentence dan paragraph unity, sekarang saatnya membahas lebih jauh mengenai cara mengembangkan sebuah paragraf. Dalam dunia penulisan paragraf, ada beberapa hal yang bisa menambah tulisan kita menjadi lebih baik. Yaitu dengan mengembangkan paragraf kita menggunakan beberapa kalimat yang mendukung topic sentence.


Salah satu paragraf yang bisa mendukung topic sentence yaitu dengan membuat beberapa kalimat jenis examples (kalimat contoh). Dengan ini, sebuah paragraf akan lebih baik dengan adanya supporting topic sentence dengan menggunakan examples:

Menurut (1981: 22) mendefinisikan examples sebagai berikut:

An example is a specific instance that explains the idea.

Jadi sebuah kalimat pendukung topic sentence jenis example ini adalah kalimat yang memberikan beberapa contoh spesifik yang menjelaskan ide (topic sentence) yang sedang dibahas.

Contoh paragraf dimana supporting topic sentencenya menggunakan examples:

Some of the most interesting words in English are the actual names of the people first involved in the activities conveyed by the meanings of the words. The word boycott, for instance, derives from the case of Sir Charles Boycott (1832-97), a land agent in Ireland who was ostracized by his tenants because he refused to lower the rents. Vidkun Quisling's name quickly became an infamous addition to the English language during World War II. He was a Norwegian politician who betrayed his country to the Nazis, and his name, quisling, is now synonymous with "traitor," Perhaps a more common example, at least among young people around the world, is Levi's. These popular blue jeans are named after levi Str"auss, the man who first manufactured them in San Francisco in 1850. Perhaps most omnipresent of all is the sandwich, named for the Fourth Earl of Sandwich (1718-92), who created this quick portable meal so that he would not have to leave the gambling table to eat. Other words in this unique category include lynch, watt, davenport, and zeppelin.

Topic sentence paragraf diatas adalah Some of the most interesting words in English are the actual names of the people first involved in the activities conveyed by the meanings of the words.

Seperti kita ketahui dalam bahasan mengenai topic sentence, terdapat dua elemen yang menjadi pembahasan dalam topic sentence yaitu topic dan limiting statement. Topic dari topic sentence tersebut adalah most interesting words; sedang limiting statement dalam topic sentence tersebut adalah names of people.

Dengan demikian, penjelasan mengenai supporting topic sentence menggunakan examples ini berkaitan dengan most interesting words dan names of people. Sehingga, contoh-contoh yang diberikan dalam supporting sentence berkaitan dengan dua hal tersebut.

Dalam paragraf diatas, kita tahu bahwa kata-kata seperti boycott, quisling, Levi, sandwich adalah beberapa contoh dari most interesting words dari names of people.

Kira-kira jika digambarkan seperti ini:


Untuk memperjelas supporting topic sentence menggunakan examples ini, mari kita lihat beberapa contoh paragraf examples berikut:

In order to be considered a hero by his own and subsequent generations, a person must display extraordinary physical or intellectual powers. The physical hero—one who exhibits great strength to overcome monumental obstacles and emerge a victor—is found frequently In literature. Samson, although chained and bound, used his superhuman strength to destroy his enemies, the Philistines, likewise, Dwight Eisenhower, a more contemporary physical hero, surmounted overwhelming odds to organize the successful Allied invasion of "Fortress Europe" during World War II. A second heroic type is the intellectual, admired for his mental prowess and the way he uses it to the benefit of mankind. Leonardo DaVinci, with his studies of architecture, human anatomy, and engineering, in addition to his great artistic achievements, belongs to this second type. More recently, Albert Einstein, who not only made far-reaching contributions in the physical sciences, but also worked diligently towards achieving world peace, illustrates the intellectual hero.