Social Icons

Monday, May 27, 2013

Metode Menerjamahkan Puisi

Membuat puisi mungkin sulit dan membosankan. Namun ada lagi yang lebih sulit yaitu menerjemahkan puisi. Menerjemahkan puisi adalah pekerjaan yang sangat jarang dilakukan seorang penerjemah. Bukan saja karena dalam menerjemahkan puisi sang penerjemah harus mengekspresikan kembali keindahan teks puisi aslinya, tapi juga karena ia harus mengungkapkan kembali makna yang terkandung dalam puisi tersebut ke dalam teks puisi bahasa sasaran. Sehingga, beberapa kalangan menganggap, menerejemahkan puisi adalah hal yang mustahil dilakukan karena telah mengganti seluruh keindahan teks puisi yang asli. Meskipun begitu, ada juga yang beranggapan bahwa menerjemahkan puisi adalah hal yang wajar dalam dunia translation, mengingat puisi adalah salah satu jenis teks yang bisa saja diterjemahkan atau bahkan diubah menjadi bentuk seni sastra lainnya seperti novel ataupun drama.

7 Strategi Menerjemahkan Puisi ala Andre Lavefere

Beberapa kamus mendefinisikan puisi sebagai, “The art of rhythmical composition, written or spoken, for exciting pleasure by beautiful, imaginative, or elevated thoughts.”  Sehingga wajar saja banyak pakar yang menganggap sangat sulit untuk menerjemahkan puisi karena seni yang satu ini kaya akan keindahan dan imajinasi. Namun begitu ada juga pakar dalam bidang translation yang sangat peduli akan penerjemahan puisi ini. Salah satu pakar dalam bidang Translation, Andre Lavefere, adalah salah seorang yang aware untuk penerjemahan puisi. Sehingga ia menawarkan tujuh strategi menerjemahkan puisi. Berikut adalah tujuh strategi penerjemahan puisi yang diungkapkan Lavefere, dikutip oleh Bassnett (2002:87):

      1.       Phonemic translation, which attempts to reproduce the SL sound in the TL while at the same time producing an acceptable paraphrase of the sense. Lefevere comes to the conclusion that although this works moderately well in the translation of onomatopoeia, the overall result is clumsy and often devoid of sense altogether.

     2.      Literal translation, where the emphasis on word-for-word translation distorts the sense and the syntax of the original.


     3.      Metrical translation, where the dominant criterion is the reproduction of the SL metre. Lefevere concludes that, like literal translation, this method concentrates on one aspect of the SL text at the expense of the text as a whole.

      4.      Poetry into prose. Here Lefevere concludes that distortion of the sense, communicative value and syntax of the SL text results from this method, although not to the same extent as with the literal or metrical types of translation.

      5.      Rhymed translation, where the translator ‘enters into a double bondage’ of metre and rhyme. Lefevere’s conclusions here are particularly harsh, since he feels that the end product is merely a ‘caricature’ of Catullus.

     6.      Blank verse translation. Again the restrictions imposed on the translator by the choice of structure are emphasized, although the greater accuracy and higher degree of literalness obtained are also noted.

      7.      Interpretation. Under this heading, Lefevere discusses what he calls versions where the substance of the SL text is retained but the form is changed, and imitations where the translator produces a poem of his own which has ‘only title and point of departure, if those, in common with the source text’.

Mohon maaf, saya tidak sempat menerjemahkannya ketujuh strategi diatas (padahal emang ga bisa hehehe), mungkin ada yang mau menerjemahkan? Meskipun tidak saya terjemahkan, namun bahasa yang diungkapkan oleh Bassnett diatas sudah sangat mudah diterjemahkan bukan? Semoga referensi Bahasa Inggris kali ini bisa bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Oia nih ada kata-kata keren tentang ke-impossible-an menerjemahkan puisi:

“Translate it with absolute fidelity into another language, and the poetry is dead!!!” (Clement Wood)


Referensi

Bassnett, Susan. 2002. Translation Studies 3rd edition. London and New York: Routledge.



No comments:

Post a Comment